BorneoFlash.com, PENAJAM – Nelayan di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) terus menghadapi kesulitan dalam memperoleh bahan bakar minyak (BBM) dengan harga terjangkau.
Untuk itu, kehadiran Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) dinilai sangat mendesak demi mendukung kelancaran aktivitas melaut.
Anggota DPRD PPU, Ishaq Rahman, menyampaikan harapannya agar pemerintah daerah dapat merealisasikan pembangunan SPBN pada tahun 2026 mendatang. Menurutnya, para nelayan selama ini kerap mengeluhkan tingginya harga BBM yang mereka beli dalam jumlah terbatas.
“SPBN kami dorong supaya segera direalisasikan karena ini menjadi keinginan masyarakat nelayan yang dihadapkan pada sulitnya mendapatkan bahan bakar karena jauh, ditambah harganya normal, bukan subsidi,” jelas Ishaq, pada Selasa (2/12/2025).
Saat ini, harga bio solar yang dibeli nelayan mencapai Rp12 ribu per liter atau lebih, jauh dari harga subsidi yang seharusnya mereka dapatkan sesuai regulasi.
“Sehingga beban operasional nelayan tidak begitu berat dan hasil tangkapannya pun tetap memberikan keuntungan yang layak. DPRD mendorong nelayan mendapatkan haknya,” tegasnya.
Meski kondisi anggaran daerah tengah terbatas, pemerintah daerah tetap berupaya memperjuangkan sektor perikanan. Langkah koordinasi terus dilakukan bersama Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) untuk memastikan penyediaan dan distribusi BBM bersubsidi tepat sasaran, sehingga nelayan tidak lagi terbebani biaya tinggi.
“Kita harap persoalan harga BBM nelayan bisa terselesaikan dan aktivitas melaut mereka lancar,” pungkas Ishaq. (*/Adv)





