BorneoFlash.com, JAKARTA – Anggota Komisi XII DPR RI Ateng Sutisna meminta Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) meninjau ulang rencana penerapan bahan bakar E10 dengan mempertimbangkan kondisi mesin kendaraan di Indonesia.
“Banyak kendaraan belum siap dengan kandungan etanol tinggi. Meski ramah lingkungan, etanol belum sepenuhnya cocok untuk mesin saat ini,” ujar Ateng di Jakarta, Senin.
Ia menilai sebagian besar kendaraan di Indonesia masih menggunakan sistem pembakaran konvensional sehingga campuran etanol berlebihan bisa menurunkan performa dan daya tahan mesin.
Pemerintah sebaiknya menerapkan aturan E10 secara bertahap sambil menunggu perkembangan teknologi mesin di Indonesia.
Meski begitu, Ateng mendukung langkah pemerintah mengembangkan energi hijau dan bioetanol, asalkan penerapannya realistis.
Pemerintah harus menyesuaikan transisi energi dengan kesiapan teknologi dan kualitas BBM agar kebijakan tidak merugikan konsumen.
Ia juga meminta pemerintah melibatkan ahli otomotif dan industri kendaraan dalam menentukan kadar etanol agar transisi energi berjalan mulus tanpa mengorbankan performa mesin. (*)





