BorneoFlash.com, KUKAR - Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kutai Kartanegara (Kukar) terus mengalami peningkatan dalam beberapa bulan terakhir.
Namun, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kukar menegaskan kenaikan tersebut tidak bisa langsung dikaitkan dengan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kepala Dinkes Kukar, Ismi Mufiddah mengatakan, ISPA memang menjadi penyakit yang cukup dominan ditemukan di masyarakat. Bahkan, penyakit tersebut secara rutin masuk dalam daftar penyakit terbanyak di Kukar.
“Memang ada peningkatan kasus ISPA yang cukup signifikan,” ucap Ismi, pada Selasa (8/9/2026).
Data Dinkes Kukar mencatat, kasus ISPA pada Juni 2026 berada di angka 3.703 kasus. Jumlah itu kemudian meningkat menjadi 7.172 kasus pada Juli dan kembali naik hingga mencapai 9.075 kasus sepanjang Agustus.
Meski peningkatannya cukup tajam, Ismi menyebut ISPA tidak hanya muncul ketika terjadi karhutla. Ada sejumlah faktor lain yang dapat memengaruhi gangguan pada saluran pernapasan, termasuk kondisi lingkungan dan paparan polusi kendaraan.
“ISPA itu kalaupun tidak ada karhutla, memang selalu menjadi peringkat pertama dari 10 penyakit terbesar,” katanya.
Kasus ISPA juga ditemukan di seluruh wilayah Kukar. Beberapa daerah yang mencatat jumlah kasus cukup tinggi yakni Tenggarong, Sangasanga, Loa Janan dan Samboja.
Jika dilihat berdasarkan kelompok usia, masyarakat usia 18-59 tahun menjadi kelompok dengan jumlah kasus terbanyak, yakni sekitar 3.028 kasus. Disusul kelompok usia 5-18 tahun sekitar 2.950 kasus, sedangkan balita tercatat lebih dari 1.600 kasus.
Kondisi tersebut membuat peningkatan ISPA di Kukar perlu dilihat secara menyeluruh. Sebab, meski kualitas udara dan asap dapat menjadi salah satu pemicu, penyakit pernapasan tersebut juga tetap menjadi kasus yang banyak ditemukan bahkan di luar situasi karhutla. (*)
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Tulis Komentar