“Kalau aktivitas tersebar, efeknya tidak terlalu signifikan. Dengan konsep terpusat seperti ini, pergerakan ekonomi terlihat lebih hidup dan terukur,” ujarnya.
Ia juga menambahkan, momentum Ramadan dapat menjadi contoh bagaimana ruang publik dikelola secara produktif tanpa mengabaikan aspek ketertiban dan kenyamanan.
Evaluasi terhadap pola ini, lanjutnya, bisa menjadi dasar pengembangan kebijakan serupa pada momentum lain.
“Kita berharap pendekatan ini tidak hanya bersifat musiman, tetapi bisa menjadi model penguatan ekonomi lokal ke depan,” tuturnya.
Dengan pendekatan yang lebih terarah, pemerintah daerah diharapkan mampu menjaga keberlanjutan penguatan ekonomi masyarakat sehingga memberikan kontribusi nyata bagi pertumbuhan ekonomi di Kutai Kartanegara. (*)







