“Dengan perencanaan yang matang, skema pembiayaan bisa disesuaikan dan tidak hanya bergantung pada APBD kabupaten,” katanya.
Terkait pendanaan, Ahmad Yani menyebut pembangunan jembatan Sanga-Sanga–Anggana memungkinkan untuk didukung melalui berbagai sumber, mulai dari APBD Provinsi Kalimantan Timur, APBN melalui Kementerian PUPR, hingga keterlibatan pihak swasta melalui program tanggung jawab sosial perusahaan.
Meski demikian, ia mengakui peluang dimulainya pengerjaan fisik pada 2026 masih terbatas karena keterbatasan anggaran serta belum masuknya proyek tersebut dalam perencanaan awal daerah.
Karena itu, pembahasan sejak tahun ini dinilai menjadi langkah paling realistis agar pelaksanaan pembangunan dapat dimulai pada 2027.
“Target 2027 akan lebih rasional jika seluruh proses persiapannya mulai dirapikan dari sekarang,” ungkapnya.
Ia berharap pembangunan jembatan ini nantinya tidak hanya mempermudah akses transportasi masyarakat, tetapi juga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi serta memperkuat pemerataan layanan publik di wilayah Sanga-Sanga dan Anggana.







