Dari sisi teknis, insinerator dirancang beroperasi pada suhu tinggi untuk memastikan pembakaran berlangsung sempurna dan menekan potensi munculnya asap tebal.
Vendor penyedia, Wisanggeni Generasi 7, menjelaskan bahwa tahapan uji coba dilakukan secara bertahap dan memakan waktu sekitar satu minggu.
Pada fase awal, mesin hanya dipanaskan pada kisaran 300 hingga 400 derajat Celsius. Setelah struktur dinding insinerator stabil dan sistem pendinginan dinilai siap, suhu perlahan dinaikkan menuju target operasional 800 derajat.
Tahap ini menjadi titik krusial karena kondisi mesin yang belum optimal, seperti dinding yang masih lembap, berpotensi memicu kepulan asap berlebih.
Sejumlah unit saat ini telah memasuki tahap uji coba di beberapa lokasi dengan aktivitas padat, seperti Polder Air Hitam dan Jalan Nusyirwan Ismail.
DLH juga menyiapkan pengoperasian insinerator di kawasan Wanyi, Lempake, hingga Bukit Pinang sebagai bagian dari perluasan layanan pengolahan sampah.
Namun distribusi alat tak sepenuhnya berjalan mulus. Di wilayah Loa Janan Ilir, proses perakitan masih tertunda akibat akses jalan yang sulit dilalui.
Mobilisasi unit harus dilakukan secara bertahap untuk menghindari kerusakan alat maupun gangguan di lapangan.
DLH menegaskan akan terus meminta pendampingan vendor selama masa uji coba hingga operasional penuh, guna memastikan seluruh unit bekerja sesuai standar dan tidak menimbulkan dampak lingkungan.
“Kami pastikan setiap unit aman digunakan dan tidak menimbulkan masalah bagi lingkungan,” tegas Suwarso.





