Kondisi serupa juga terjadi di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU). Pada Desember 2025, inflasi PPU tercatat 0,41 persen (mtm), dengan inflasi tahunan sebesar 2,08 persen, lebih rendah dari inflasi nasional dan masih dalam sasaran yang ditetapkan pemerintah.
Yang menarik, di tengah tekanan harga dan faktor cuaca, optimisme masyarakat tetap terjaga. Hal ini tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Balikpapan pada Desember 2025 yang berada di level 122,7, menandakan masyarakat masih percaya terhadap prospek ekonomi enam bulan ke depan.
Kuatnya daya beli juga terlihat dari pertumbuhan transaksi QRIS. Di Balikpapan, transaksi QRIS pada November 2025 tumbuh 100,85 persen (year on year), sementara di PPU tumbuh 70,62 persen (yoy).
Angka ini menunjukkan aktivitas konsumsi masyarakat tetap bergerak positif meski laju pertumbuhannya mulai melandai.
Ke depan, Bank Indonesia mengingatkan adanya sejumlah risiko yang perlu diantisipasi, mulai dari puncak musim hujan, potensi banjir, gelombang laut tinggi, hingga meningkatnya permintaan menjelang Ramadan dan Idulfitri 2026.
Risiko tersebut berpotensi menekan pasokan pangan, khususnya komoditas hortikultura dan perikanan.

Untuk menjaga stabilitas harga, Bank Indonesia Balikpapan bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di Balikpapan, PPU, dan Paser akan terus memperkuat sinergi.
Langkah yang ditempuh antara lain pemantauan harga secara rutin, operasi pasar dan pasar murah, penguatan kerjasama antar daerah, hingga mendorong pemanfaatan lahan pekarangan.
“Dengan kolaborasi yang kuat dan langkah antisipatif, kami optimistis inflasi daerah tetap terkendali dan daya beli masyarakat tetap terjaga,” pungkas Robi Ariadi. (*)







