Langkah ini diharapkan memperkuat ketahanan energi dan mengurangi ketergantungan impor BBM.
Pemerintah menegaskan pasokan minyak mentah untuk kilang ini akan mengutamakan sumber dalam negeri, sementara impor hanya dilakukan jika pasokan domestik belum mencukupi.
Kapasitas penyimpanan raksasa 2 juta kiloliter tersebut disiapkan untuk menjaga kelancaran proses produksi sekaligus meningkatkan fleksibilitas pasokan. Peningkatan kapasitas kilang ini diperkirakan dapat menurunkan impor BBM hingga 10–15% secara nasional.
RDMP Balikpapan dikembangkan sebagai green refinery yang mampu mengolah residu rendah menjadi produk petrokimia bernilai tinggi seperti propilena dan etilena, dua komoditas yang selama ini banyak diimpor Indonesia.
“Kita ingin tidak ada residu terbuang. Semua harus menjadi produk bernilai tambah,” kata Yuliot.
Tahap akhir proyek kini menyisakan 1–2% pekerjaan teknis. Tim komersialisasi tengah memastikan seluruh unit siap beroperasi penuh menjelang peresmian.
Yuliot menegaskan RDMP Balikpapan bukan hanya menjadi kilang terbesar di Indonesia, tetapi juga diproyeksikan masuk jajaran kilang terbesar di ASEAN. Dengan investasi masif, teknologi mutakhir, dan peran strategisnya, peresmian oleh Presiden Prabowo Subianto menjadi simbol kuat komitmen pemerintah terhadap kemandirian dan ketahanan energi nasional. (*)








