Sekolah yang Baik Tidak Mencetak Murid tapi Menghidupkan Pikiran

oleh -
Editor: Ardiansyah
Ilustrasi di Sekolah, Guru bukan hanya menjadi pemberi materi, melainkan fasilitator yang mampu menggerakkan dan memandu pikiran siswa agar mereka bisa menemukan sendiri makna dan jawaban permasalahan. Foto: IST/School Media
Ilustrasi di Sekolah, Guru bukan hanya menjadi pemberi materi, melainkan fasilitator yang mampu menggerakkan dan memandu pikiran siswa agar mereka bisa menemukan sendiri makna dan jawaban permasalahan. Foto: IST/School Media

BorneoFlash.com, OPINI – Sekolah merupakan institusi pendidikan formal yang memiliki fungsi strategis dalam membentuk sumber daya manusia. Dalam pemahaman umum, sekolah sering dipandang sebagai tempat mencetak murid yang cerdas secara akademik dan siap untuk menghadapi dunia kerja.

 

Namun, pandangan ini cenderung memandang pendidikan sebagai proses transmisi pengetahuan stukturatis dan mekanis.

 

Dalam kenyataannya, konsep pendidikan yang ideal seharusnya tidak sekadar mencetak murid dengan kemampuan hafalan dan penguasaan materi, tetapi lebih jauh menghidupkan dan membangkitkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan mandiri pada setiap siswa. 

 

Pandangan ini sejalan dengan teori pendidikan yang dikemukakan oleh Charles Bertrand, seorang pemikir dalam bidang pendidikan yang menekankan pentingnya pembelajaran yang menghidupkan pikiran.

 

Sekolah sebagai Tempat Menghidupkan Pikiran

Kalimat “Sekolah yang baik tidak mencetak murid tapi menghidupkan pikiran” menandai pergeseran paradigma pendidikan. Tidak cukup hanya menjadikan sekolah sebagai mesin produksi manusia siap pakai, tetapi sebagai ruang transformasi intelektual dan kultural. 

 

Sekolah harus menjadi tempat di mana peserta didik belajar untuk berpikir secara mendalam dan reflektif, bukan sekadar mengingat fakta atau menjalani rutinitas pembelajaran yang monoton. Pendidikan yang memfasilitasi penghidupan pikiran ini membuat siswa mampu mengembangkan kemampuan analisis, pemecahan masalah, dan keberanian untuk menyuarakan ide-ide baru.

 

Dalam perspektif ini, sekolah tidak hanya bertanggung jawab terhadap hasil belajar yang bersifat kuantitatif, seperti nilai ujian semata, tetapi lebih kepada kualitas pemikiran dan keberanian intelektual siswa. 

 

Sebuah sekolah yang menghidupkan pikiran akan menantang siswa untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran, mengajukan pertanyaan, mengalami kegagalan, serta belajar dari pengalaman. Hal ini berbeda dengan model pendidikan yang berorientasi pada pengulangan dan hafalan tanpa makna mendalam.

Baca Juga :  Kiprah Majelis Kehormatan Mahkamah Konstitusi dan Menjadikan Dewan Pers Bukan “Super Body”

 

Teori Charles Bertrand tentang Pendidikan

Charles Bertrand adalah seorang tokoh pemikir pendidikan yang menghargai pentingnya aspek kognitif dalam pembelajaran. Menurut Bertrand, pendidikan sejati bukan hanya soal transfer pengetahuan, melainkan tentang mengaktifkan dan menghidupkan pikiran siswa. 

 

Ia menolak proses pendidikan yang bersifat deposisi pasif, di mana siswa hanya menjadi penerima informasi tanpa interaksi aktif dengan materi pembelajaran. Bertrand menekankan pada pembelajaran yang membuat siswa berpikir secara kritis dan mandiri.

 

Bertrand mengajarkan pentingnya pembelajaran yang bersifat dialogis dan reflektif. Salah satu prinsip mendasar dari teorinya adalah “Learning to think,” yaitu proses belajar yang berorientasi pada pengembangan kemampuan berpikir siswa, bukan sekadar mengisi pikiran mereka dengan fakta atau teori yang sudah jadi. 

Simak berita dan artikel BorneoFlash lainnya di  Google News

Jangan ketinggalan berita terbaru! Follow Instagram  dan subscribe channel YouTube BorneoFlash Sekarang

No More Posts Available.

No more pages to load.