Keberadaan hutan mangrove saat ini dengan luasan 120 hektar yang terus dipulihkan kondisinya di kawasan ini tercatat dapat menyerap emisi karbon hingga 175,34 ton CO2eq/tahun.
Menurut Sigid, program ini mendukung banyak kegiatan produktif dan bernilai ekonomi, seperti pengadaan susur sungai untuk aktivitas wisata, pelatihan tour guide, edukasi ekowisata bagi anak-anak sekolah, hingga pembuatan produk turunan dari nipah dan daun mangrove.
Selain itu, kolaborasi perusahaan dengan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) setempat diyakini Sigid menjadi pendukung keberhasilan pelaksanaan dan rencana pengembangan program ini.
“Kita berharap kemandirian program bisa dicapai pada 2028. Untuk itu pada tahun 2024 ini saja, PEP Sangasanga Field meresmikan beberapa fasilitas penunjang dalam program SHL ini, seperti pojok belajar, pujasera, tempat parkir, dan toilet yang bertujuan mendukung pengembangan ekowisata agar menarik lebih banyak pengunjung,” katanya.
Sementara itu, Elis Fauziyah menyampaikan bahwa Program SHL ini merespon dua masalah sekaligus, yaitu isu perekonomian masyarakat dan semakin minimnya habitat Bekantan di wilayah ini.

“PEP Sangasanga Field berkomitmen menjalankan program tanggung jawab sosial dan lingkungan Perusahaan atau CSR yang mendukung pengembangan dan kemandirian masyarakat selaras dengan pencapaian Tujuan-tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau SDGs,” ucap Elis.
Program SHL dilaksanakan untuk mendukung pencapaian tiga tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) sekaligus, yakni Tujuan 1 tentang mengurangi kemiskinan (no poverty), Tujuan 8 tentang meningkatkan pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi (decent work and economic growth), serta Tujuan 15 tentang mendukung kehidupan di daratan (life on land). (*)





