Kemudian Ma’ruf Amin dalam sambutannya mengharapkan Anugerah Lingkungan PROPER dapat menjadi kompas atau pemandu praktik bisnis berkelanjutan melalui penerapan prinsip ekonomi hijau.
PROPER harus mampu mendorong capaian yang melebihi ketaatan industri terhadap peraturan lingkungan hidup.
Apresiasi juga disampaikan Wakil Menteri (Wamen) LHK Alue Dohong. Wamen mengucapkan selamat kepada perusahaan yang telah konsisten menunjukkan keunggulan lingkungan dan melaksanakan bisnis yang beretika serta bertanggung jawab terhadap masyarakat.
Inovasi Sosial dan Lingkungan Pada Program CSR Perusahaan. Lantas, seperti apa program-program CSR grup PHI yang mendukung peraihan Anugerah Lingkungan PROPER Emas ini?
Manager Communication Relations & CID PHI, Dony Indrawan menjelaskan bahwa Program Ekoriparian Sungai Hitam Lestari, misalnya, berawal dari keprihatinan PEP Sangasanga Field terhadap kondisi habitat bekantan yang terus berkurang akibat alih fungsi lahan yang terjadi sejak 1990.
“Kami membangun dan mengajarkan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) tentang pelestarian ekosistem di kawasan sungai termasuk bekantan, pembersihan dan penghijauan, serta pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) di area wisata Sungai Hitam melalui pemasangan panel surya. Panel surya ini memberikan manfaat ekonomi bagi Pokdarwis sekitar Rp 70 juta per tahun dan penghematan biaya listrik Rp 1,2 juta per tahun,” katanya menjelaskan.
Program lainnya yakni Semur Cendawan menurut Dony telah dimulai oleh PHKT DOBS pada awal 2022 lalu.
“Program ini mengembangkan inovasi pada budidaya jamur sebagai salah satu solusi pemenuhan kebutuhan pangan dan sumber pendapatan tambahan bagi petani di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), yang merupakan calon ibu kota nusantara atau IKN.”
“Kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, seperti Dinas Ketahanan Pangan, SKK Migas Kalsul, PHKT DOBS, dan pihak penerima manfaat, mampu mendorong siklus ekonomi yang terintegrasi dan menciptakan nilai dan manfaat yang dinikmati bersama (creating shared value),” ucapnya menambahkan.

Dony pun menjelaskan tentang program Kapak Prabu binaan PHKT DOBU yang berhasil mendorong inovasi pada budidaya Kopi Liberika dan Kopi Luwak di Desa Prangat Baru, Kecamatan Marangkayu, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.
Sejak 2020, program Kapak Prabu terus dikembangkan hingga kini menjadi kampung ekologi agar memberikan dampak sosial dan ekonomi lebih luas.
“Masyarakat tak hanya dapat bertani dan menikmati hasil atau produk Kopi Liberika dan Kopi Luwak, namun juga bisa mempelajari tata cara pembibitan hingga penyajian kopi, termasuk konservasi luwak, lebah kelulut, dan lainnya. Program CSR yang mendorong pengembangan ekonomi dengan mendukung pelestarian lingkungan,” ucapnya. (*)