As-Sadi dan ulama lainnya berkata, “Ibrahim menggoreskan goloknya pada leher Ismail, tetapi tidak melukai sedikit pun.” Ada juga yang berpendapat, “Antara golok dan leher Ismail terdapat lempengan logam.” Wallahu a’lam.
Pada saat yang sangat kritis itu lalu terdengar dari Allah SWT sebagaimana firman-Nya dalam surah As-Saffat ayat 104-105,
وَنَادَيْنٰهُ اَنْ يّٰٓاِبْرٰهِيْمُ ۙ ١٠٤ قَدْ صَدَّقْتَ الرُّءْيَا ۚاِنَّا كَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ ١٠٥
Artinya, “Kami memanggil dia, “Wahai Ibrahim, sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu.” Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.”
Akhirnya Allah SWT mengganti Nabi Ismail AS dengan seekor kambing. Di mana menurut pendapat mayoritas ulama yang masyhur bahwa pengganti Ismail AS dengan seekor kibasy (kambing besar) berwarna putih, bermata hitam, dan bertanduk besar.
Nabi Ibrahim AS melihat kambing itu telah terikat dengan tali berwarna cokelat di Gunung Tsabir. Ats-Tsauri juga meriwayatkan dari Abdullah bin Utsman bin Khutsaim dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas ia berkata, “Yaitu kambing yang digembalakan di surga selama empat puluh musim.”
Sa’id bin Jubair berkata, “Kambing itu digembalakan di surga hingga Gunung Tsabir pun terpecah karena kehadirannya.”
Dari kisah inilah awal mula diperintahkannya kurban pada Hari Raya Idul Adha. Hal ini dijelaskan pula oleh Otong Surasman dalam buku Bercermin pada Nabi Ibrahim AS.
Ia menerangkan, dari kisah ketaatan dan keikhlasan Nabi Ibrahim AS untuk memenuhi perintah Allah SWT ini bisa dipetik sebuah pelajaran penting bagi umat Islam.
Di mana umat Islam harus mampu untuk mengorbankan harta yang dicintainya karena hal itu semua semata-mata hanya titipan dari Allah SWT.
Sumber: Detikhikmah