Untuk itu kata Arjon, PT KPI Unit Balikpapan mengundang semua para pemangku kepentingan untuk koordinasi dan mendapatkan masukan terhadap tindakan-tindakan yang akan diambil oleh Pertamina bila menghadapi suatu situasi keadaan bahaya.
“Kami yakin melalui forum ini, para stakeholder kami tentunya dapat memberikan masukan terhadap skenario yang telah kami susun dan mungkin memberikan cara pandang yang berbeda. Semoga melalui forum-forum ini, kita dapat meningkatkan silaturahmi antar institusi demi kepentingan negara yang lebih besar,” harap Arjon.
Dukungan terhadap rencana pelatihan keadaan bahaya ini mendapatkan dukungan dari Pemerintah Kota Balikpapan. Hal ini disampaikan oleh Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Balikpapan Silvia Rahmadina.
“Kami sangat mendukung karena memang kegiatan seperti ini wajib dilakukan minimal 6 bulan sekali untuk mempersiapkan seluruh elemen baik dari internal maupun dari eksternal Pertamina,” kata Silvia.
Latihan juga penting menurut Silvia agar masyarakat di sekitar operasional Pertamina ini bisa mengetahui langkah-langkah yang akan mereka lakukan jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
“Kami sangat mendukung kegiatan ini karena kami juga sebagai penanggung jawab penanggulangan bencana di Kota Balikpapan,” kata Silvia.
Sementara itu, Area Manager Communication, Relations & CSR KPI Unit Balikpapan Ely Chandra Peranginangin menyampaikan bahwa kegiatan latihan keadaan darurat merupakan kegiatan tahunan yang dilaksanakan oleh PT KPI Balikpapan.

“Tahun ini, kami mencoba melibatkan para pemangku kepentingan yang lebih besar diantaranya Kepolisian, TNI, KSOP, Pemerintah Daerah dan pemangku kepentingan lainnya,” ujarnya.
“Kami juga akan melibatkan mitra binaan kami Kelompok Kampung Siaga Bencana Kelurahan Margasari dan Kelurahan Baru Tengah. Namun tentu kita berharap, kita semua terhindar dari bahaya-bahaya yang tidak kita inginkan.” Pungkas Chandra. (*)







