Menurut Rahmat, dokumenter tersebut juga berbeda dengan film pada umumnya yang dibangun melalui skenario cerita. Film Penyambung Lidah Rakyat justru disusun dari rekaman berbagai aktivitas nyata yang terjadi di lapangan.
Beragam potongan kegiatan selama satu tahun kemudian dirangkai menjadi satu cerita mengenai proses menyerap aspirasi masyarakat serta dinamika yang ditemui selama menjalankan tugas.
Dalam proses pembuatannya, film tersebut turut melibatkan anak-anak muda lokal yang terlibat dalam pengambilan gambar hingga proses penyuntingan.
Rahmat berharap dokumenter tersebut dapat mengingatkan kembali tentang fungsi DPRD sebagai perwakilan masyarakat yang menyampaikan aspirasi rakyat kepada pemerintah.
“Yang terpenting bagaimana amanah masyarakat itu bisa dijalankan dengan sebaik-baiknya,” katanya.
Anggota Komisi II DPRD Kutai Kartanegara, Rahmat Darmawan, saat diwawancarai usai kegiatan silaturahmi bersama masyarakat di Muara Jawa.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga memperkenalkan film dokumenter Penyambung Lidah Rakyat yang memuat perjalanan tugasnya selama setahun sebagai wakil rakyat. (*)





