BorneoFlash.com, JAKARTA– Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan pemerintah membuka peluang impor minyak dari berbagai negara, termasuk Rusia, untuk mendiversifikasi sumber energi di tengah ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah.
Bahlil menegaskan pemerintah tidak membatasi sumber impor minyak pada satu negara. Pemerintah memprioritaskan ketersediaan pasokan dan harga yang kompetitif.
Ia menyatakan impor minyak dari Rusia kini memungkinkan setelah Amerika Serikat kembali membuka akses pembelian minyak dari negara tersebut.
Selain itu, pemerintah menjajaki kerja sama energi dengan Brunei Darussalam. Dalam pertemuan bilateral dengan Wakil Perdana Menteri Brunei, kedua negara membahas transfer teknologi dan penguatan kerja sama sektor energi.
Bahlil menilai Brunei memiliki potensi pasokan gas C3 dan C4 yang dapat menjadi bahan baku Liquefied Petroleum Gas (LPG). Indonesia dapat mengambil pasokan tersebut atau membangun industri LPG di Brunei untuk memenuhi kebutuhan domestik.
Ketegangan antara Amerika Serikat–Israel dan Iran juga mendorong Indonesia mencari alternatif sumber impor minyak di luar Timur Tengah. Selama ini kawasan tersebut menyumbang sekitar 20 – 25 persen impor minyak mentah Indonesia.
Sementara itu, Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menyatakan pemerintah masih menegosiasikan pengalihan impor energi dari luar Timur Tengah. Pemerintah juga membahas peningkatan impor dari Amerika Serikat melalui kerja sama Agreement on Reciprocal Trade (ART).
Ia menambahkan operator minyak global seperti ExxonMobil dan Chevron berpotensi memasok kebutuhan energi Indonesia, baik dalam bentuk minyak mentah maupun BBM jadi. Namun, pemerintah masih melanjutkan negosiasi dan belum mencapai kesepakatan dengan negara pemasok. (*)








