BorneoFlash.com, JAKARTA – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menegaskan momen Lebaran Idul Fitri 1447 Hijriah berperan penting menjaga stabilitas ekonomi nasional sekaligus mendorong kinerja sektor industri.
Inspektur Jenderal Kemenperin M. Rum mengatakan peningkatan konsumsi masyarakat selama Ramadhan hingga Idul Fitri mendorong sejumlah sektor industri, terutama makanan dan minuman, tekstil, serta pakaian jadi. Lonjakan konsumsi juga menggerakkan UMKM dan industri pengolahan sehingga turut menjaga stabilitas ekonomi.
Menjelang Lebaran, industri makanan dan minuman meningkatkan produksi untuk memenuhi permintaan. Saat ini tingkat utilisasi sektor tersebut mencapai 70 – 80 persen, lebih tinggi dari rata-rata normal sekitar 60 persen.
Pada 2025, sektor makanan dan minuman menyumbang 52,09 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) industri nonmigas dan sekitar 9 persen terhadap PDB nasional, dengan pertumbuhan 4,95 persen.
Di perdagangan internasional, industri agro termasuk makanan dan minuman—mencatat ekspor 78,77 miliar dolar AS dan impor 21,19 miliar dolar AS sehingga menghasilkan surplus neraca dagang 57,58 miliar dolar AS.
Pada 2025, sektor industri agro juga mencatat realisasi investasi Rp191,7 triliun dan menyerap sekitar 10 juta tenaga kerja hingga Agustus 2025. Pemerintah terus mendorong hilirisasi berbasis sumber daya alam untuk memperkuat struktur industri agro dan meningkatkan nilai tambah komoditas.
Untuk mendukung konsumsi produk dalam negeri, Kemenperin menggelar Bazar Lebaran 2026 pada 10 – 13 Maret 2026 di Plaza Pameran Industri Kemenperin, Jakarta.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika mengatakan bazar tersebut melibatkan 80 perusahaan dari industri besar, menengah, serta UMKM yang memasarkan berbagai kebutuhan masyarakat menjelang Lebaran. (*)







