Konflik Iran Picu Lonjakan Harga Minyak Dunia di Atas USD 100, Berpotensi Tekan Ekonomi Global dan Indonesia

oleh -
Editor: Ardiansyah
Donald Trump mengatakan kenaikan harga minyak dalam jangka pendek merupakan konsekuensi yang harus dihadapi demi menjaga stabilitas keamanan global. Foto: BorneoFlash/Ist
Donald Trump mengatakan kenaikan harga minyak dalam jangka pendek merupakan konsekuensi yang harus dihadapi demi menjaga stabilitas keamanan global. Foto: BorneoFlash/Ist
banner 300×250

BorneoFlash.com, IRAN – Harga minyak dunia melonjak tajam hingga menembus USD 100 per barel untuk pertama kalinya sejak 2022.

 

Kenaikan ini dipicu meningkatnya konflik di Timur Tengah yang mengganggu jalur distribusi minyak global serta menambah ketidakpastian di pasar keuangan dunia.

 

Minyak mentah jenis Brent tercatat naik sekitar 18% hingga mencapai kisaran USD 109 per barel. Lonjakan tersebut melanjutkan kenaikan besar pada pekan sebelumnya yang mencapai sekitar 28%.

 

Para pelaku pasar kini bersiap menghadapi potensi gejolak lanjutan karena konflik yang melibatkan Iran telah memasuki minggu kedua.

 

Situasi diperparah oleh langkah beberapa produsen yang mulai mengurangi produksi minyak serta terganggunya lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz, jalur strategis bagi perdagangan energi dunia.

 

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan kenaikan harga minyak dalam jangka pendek merupakan konsekuensi yang harus dihadapi demi menjaga stabilitas keamanan global.

 

“Dalam jangka pendek harga minyak akan naik, tetapi akan turun dengan cepat setelah ancaman nuklir Iran berhasil dihentikan. Itu adalah harga kecil yang harus dibayar demi keamanan dan perdamaian Amerika Serikat serta dunia,” ujar Trump melalui unggahan di platform Truth Social.

 

Ketegangan geopolitik tersebut langsung berdampak pada pasar keuangan global. Saham-saham di kawasan Asia turun lebih dari 3 persen, sementara kontrak berjangka indeks Nasdaq 100 melemah sekitar 2 persen. Aset kripto juga mengalami penurunan.

 

Sebaliknya, dolar AS menguat terhadap hampir seluruh mata uang utama dunia karena dianggap sebagai aset aman di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

 

Kenaikan harga minyak juga memicu kekhawatiran baru terhadap inflasi global. Kondisi ini menekan pasar obligasi pemerintah AS (Treasuries) setelah sebelumnya sempat menguat menyusul laporan ketenagakerjaan AS yang melemah.

Baca Juga :  OIKN Ajak Investor Dunia Dukung Pembangunan Nusantara

 

Imbal hasil obligasi acuan AS tenor 10 tahun tercatat meningkat sepanjang tahun ini. Di Australia, imbal hasil obligasi tiga tahun yang sensitif terhadap kebijakan suku bunga melonjak ke level tertinggi sejak 2011. Sementara itu, kontrak berjangka obligasi pemerintah Jerman merosot mendekati level terendah dalam hampir 15 tahun.

Simak berita dan artikel BorneoFlash lainnya di  Google News

Jangan ketinggalan berita terbaru! Follow Instagram  dan subscribe channel YouTube BorneoFlash Sekarang

No More Posts Available.

No more pages to load.