Konflik Iran Picu Lonjakan Harga Minyak Dunia di Atas USD 100, Berpotensi Tekan Ekonomi Global dan Indonesia

oleh -
Editor: Ardiansyah
Donald Trump mengatakan kenaikan harga minyak dalam jangka pendek merupakan konsekuensi yang harus dihadapi demi menjaga stabilitas keamanan global. Foto: BorneoFlash/Ist
Donald Trump mengatakan kenaikan harga minyak dalam jangka pendek merupakan konsekuensi yang harus dihadapi demi menjaga stabilitas keamanan global. Foto: BorneoFlash/Ist
banner 300×250

Selain itu, penguatan dolar AS juga menjadi sorotan. Indeks Bloomberg Dollar Spot tercatat naik sekitar 0,5 persen pada awal pekan.

 

Strategis dari Commonwealth Bank of Australia, Carol Kong, mengatakan dolar menjadi pihak yang paling diuntungkan dalam kondisi ketidakpastian saat ini.

 

“Dolar AS mendapat manfaat dari statusnya sebagai aset safe haven dan posisi Amerika Serikat sebagai eksportir energi bersih. Arah penguatannya ke depan akan sangat bergantung pada seberapa lama konflik ini berlangsung,” ujarnya.

 

Di AS, laporan tenaga kerja terbaru juga menunjukkan pelemahan. Data nonfarm payrolls mencatat penurunan sebanyak 92.000 pekerjaan pada bulan lalu, salah satu penurunan terbesar sejak masa pandemi.

 

Sebagian penurunan dipengaruhi faktor sementara seperti aksi mogok pekerja sektor kesehatan serta dampak cuaca buruk. Namun sejumlah sektor industri juga dilaporkan memangkas tenaga kerja.

 

Tingkat pengangguran AS pun naik menjadi 4,4%.

 

Presiden Yardeni Research, Ed Yardeni, menilai lonjakan harga minyak berpotensi memicu koreksi di pasar saham global, meskipun belum tentu langsung memasuki fase pasar bearish.

 

Namun ia mengingatkan bahwa risiko tersebut dapat meningkat apabila investor mulai memperkirakan terjadinya stagflasi, yakni kondisi ekonomi dengan pertumbuhan rendah namun inflasi tinggi.

 

“Kita mungkin belum melihat reaksi terburuk dari pasar saham,” kata kepala strategi pasar JonesTrading, Michael O’Rourke.

 

Menurutnya, sentimen pasar kemungkinan akan tetap berhati-hati hingga muncul perkembangan positif yang nyata terkait konflik tersebut.

 

Lonjakan harga minyak dunia juga berpotensi memberikan tekanan terhadap perekonomian Indonesia. Sebagai negara yang masih mengimpor sebagian kebutuhan minyak, kenaikan harga energi global dapat mempengaruhi beban subsidi BBM serta meningkatkan risiko inflasi domestik.

Baca Juga :  Ikan Lele Terbesar Dunia Ditangkap, Panjang 2,8 Meter!

 

Selain itu, penguatan dolar AS di tengah ketidakpastian geopolitik juga berpotensi memberi tekanan terhadap nilai tukar rupiah serta arus modal di pasar keuangan Indonesia. Kondisi ini membuat pelaku pasar dan pemerintah perlu mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah yang dapat mempengaruhi stabilitas ekonomi global. (*)

Simak berita dan artikel BorneoFlash lainnya di  Google News

Jangan ketinggalan berita terbaru! Follow Instagram  dan subscribe channel YouTube BorneoFlash Sekarang

No More Posts Available.

No more pages to load.