Ketegangan geopolitik tersebut memperparah tekanan di pasar global yang sebelumnya sudah menghadapi berbagai risiko, termasuk gangguan teknologi kecerdasan buatan (AI) serta kekhawatiran terhadap potensi masalah di pasar kredit.
Menurut Jun Bei Liu, salah satu pendiri sekaligus manajer portofolio di Ten Cap Investment, banyak investor mulai mengambil langkah defensif karena ketidakpastian mengenai durasi konflik.
“Investor sekarang mencoba memahami berapa lama perang ini akan berlangsung. Mereka juga khawatir terhadap dampaknya pada pertumbuhan ekonomi global jika harga minyak tetap berada di level tinggi,” ujarnya dalam wawancara dengan Bloomberg TV.
Pada Ahad (8/3), Iran dilaporkan melancarkan serangan terhadap beberapa negara tetangganya, sementara Israel menyerang depot bahan bakar di Teheran serta mengancam jaringan listrik Iran. Trump juga memperingatkan bahwa AS dapat mempertimbangkan serangan terhadap target lain yang sebelumnya tidak menjadi sasaran.
“Serangan akan terus berlanjut sampai mereka menyerah atau kemungkinan besar runtuh sepenuhnya,” tulis Trump dalam unggahan di media sosial.
Di tengah konflik tersebut, Iran juga menunjuk putra mendiang Ayatollah Ali Khamenei sebagai pemimpin tertinggi yang baru. Penunjukan ini terjadi ketika perang di kawasan Timur Tengah telah memasuki hari kesembilan.
Di sisi lain, Uni Emirat Arab dan Kuwait mulai mengurangi produksi minyak. Langkah ini terjadi di tengah hampir tertutupnya Selat Hormuz, jalur laut sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan laut lepas dan menjadi salah satu rute pengiriman minyak terpenting di dunia.
Penutupan jalur tersebut menyebabkan ekspor dari kawasan penghasil minyak terbesar di dunia mengalami gangguan serius.
“Ini bukan lagi sekadar soal Selat Hormuz yang hampir tertutup, tetapi gangguan pasokan yang mulai meluas ke kawasan yang lebih luas,” kata CEO Roundhill Financial, Dave Mazza.
Menurutnya, kondisi ini dapat mendorong investor yang sudah khawatir untuk semakin mengurangi eksposur risiko di pasar.
Situasi tersebut juga terlihat di pasar obligasi global. Jika sebelumnya obligasi pemerintah AS sering dianggap sebagai aset aman, lonjakan harga minyak kini memicu kekhawatiran inflasi sehingga imbal hasil obligasi justru meningkat.
Inflasi kembali menjadi perhatian utama karena kenaikan harga energi dapat mendorong tekanan harga secara global.








