Harga Minyak Dunia Tembus USD 100, IHSG Diproyeksi Melemah pada Perdagangan Senin

oleh -
Editor: Ardiansyah
Ilustrasi Refinery oil. Foto: Freepik
Ilustrasi Refinery oil. Foto: Freepik
banner 300×250

Selain sentimen global, pasar juga mencermati perkembangan kebijakan ekonomi dalam negeri. Pemerintah saat ini membuka opsi penyesuaian anggaran untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) maupun kemungkinan penyesuaian harga BBM bersubsidi jika lonjakan harga minyak dunia memberi tekanan terhadap APBN 2026.

 

Tanpa langkah penyesuaian kebijakan, defisit anggaran negara diperkirakan berpotensi melebar hingga 3,6 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

 

Pemerintah dapat menempuh kebijakan efisiensi belanja negara serta menunda sejumlah proyek infrastruktur guna menjaga disiplin fiskal dan menahan pelebaran defisit anggaran.

 

Namun langkah tersebut juga berpotensi memperlambat realisasi proyek pembangunan dan aktivitas ekonomi, khususnya di sektor konstruksi.

 

“Apabila pada akhirnya pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi, dampaknya dapat memicu kenaikan inflasi, meningkatkan biaya transportasi dan logistik, serta menekan daya beli masyarakat,” kata Nico.

 

Sementara itu, sentimen negatif juga datang dari pasar global. Pada perdagangan Jumat (6/3/2026), bursa saham Amerika Serikat di Wall Street kompak ditutup melemah.

 

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 0,95 persen ke level 47.501,55, indeks S&P 500 melemah 1,33 persen ke posisi 6.740,02, dan indeks Nasdaq Composite terkoreksi 1,59 persen menjadi 22.387,68.

 

Di dalam negeri, pada perdagangan Jumat (6/3/2026) pekan lalu, IHSG juga ditutup melemah 124,85 poin atau 1,62 persen ke level 7.585,68.

 

Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turut turun 11,77 poin atau 1,49 persen ke posisi 776,04. (*)

Simak berita dan artikel BorneoFlash lainnya di  Google News

Jangan ketinggalan berita terbaru! Follow Instagram  dan subscribe channel YouTube BorneoFlash Sekarang

No More Posts Available.

No more pages to load.