BorneoFlash.com, JAKARTA — Komitmen pembelian sejumlah komoditas pertanian dari Amerika Serikat dinilai berpotensi menekan perekonomian domestik. Pasalnya, harga sejumlah produk asal Negeri Paman Sam tersebut relatif lebih mahal dibandingkan sumber impor lain yang menawarkan harga lebih kompetitif.
Peneliti CORE Indonesia, Eliza Mardian, mengatakan kesepakatan dagang ndonesia dan AS berpotensi membuat Indonesia membeli komoditas dengan harga yang tidak lagi sepenuhnya mempertimbangkan aspek daya saing pasar.
“Beberapa komoditas pangan dari AS relatif lebih mahal dibandingkan yang biasa kita beli,” ujar Eliza saat dihubungi di Jakarta, pada Rabu (25/2/2026).
“Karena adanya kesepakatan itu, kita jadi terpaksa membeli dengan harga relatif lebih tinggi, bukan lagi mempertimbangkan harga yang paling kompetitif,” tambahnya.
Dalam kesepakatan dagang Indonesia dan Amerika Serikat yang diteken pada 19 Februari 2026, Indonesia berkomitmen membeli produk pertanian AS senilai lebih dari 4,5 miliar dolar AS. Komoditas tersebut meliputi kedelai, jagung, gandum, kapas, hingga daging sapi.
Mengutip laporan Antara, Indonesia akan mengimpor sedikitnya 3,5 juta metrik ton kedelai dari AS per tahun selama lima tahun. Selain itu, terdapat komitmen pembelian 3,8 juta metrik ton bungkil kedelai per tahun, gandum minimal 2 juta metrik ton per tahun, serta kapas sebanyak 163.000 metrik ton per tahun dalam periode yang sama.








