Impor Komoditas AS Senilai Rp4,5 Miliar Dolar Dinilai Berisiko Tekan Industri Dalam Negeri

oleh -
Editor: Ardiansyah
Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendatangani perjanjian perdagangan timbal balik di Washington DC, Amerika Serikat, pada Kamis (19/2/2026). Foto: BorneoFlash/ANTARA/HO-Sekretariat Kabinet
Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendatangani perjanjian perdagangan timbal balik di Washington DC, Amerika Serikat, pada Kamis (19/2/2026). Foto: BorneoFlash/ANTARA/HO-Sekretariat Kabinet
banner 300×250

Eliza menilai, harga komoditas dari AS cenderung lebih tinggi dibandingkan negara pemasok lain. Sebagai contoh, jagung dari Argentina dibanderol sekitar 193 dolar AS per metrik ton (MT), sedangkan dari AS mencapai 194 dolar AS/MT.

 

Gandum dari Rusia tercatat 228 dolar AS/MT, sementara dari AS 233 dolar AS/MT. Adapun kedelai dari Argentina berada di kisaran 405 dolar AS/MT, sedangkan dari AS mencapai 418 dolar AS/MT.

 

Menghadapi kondisi tersebut, ia mendorong pemerintah menyusun strategi mitigasi agar industri domestik tetap terlindungi. Salah satu opsi yang dapat ditempuh adalah pemberian subsidi bagi pelaku industri yang menggunakan bahan baku dalam negeri.

 

“Misalnya subsidi jagung untuk pakan ternak bagi peternak kecil. Ini bisa memberi manfaat ganda bagi petani jagung dan peternak,” jelasnya.

 

Eliza juga menekankan pentingnya proteksi terhadap petani dan peternak dalam negeri. Jika petani enggan menanam karena kalah bersaing dengan produk impor, produksi nasional berisiko menurun sementara kebutuhan terus meningkat.

 

“Kondisi ini bisa meningkatkan ketergantungan impor dan membuat Indonesia semakin rentan terhadap gejolak geopolitik global,” pungkasnya. (*/BorneoFlash.com/ANTARA)

Simak berita dan artikel BorneoFlash lainnya di  Google News

Jangan ketinggalan berita terbaru! Follow Instagram  dan subscribe channel YouTube BorneoFlash Sekarang

No More Posts Available.

No more pages to load.