Eliza menilai, harga komoditas dari AS cenderung lebih tinggi dibandingkan negara pemasok lain. Sebagai contoh, jagung dari Argentina dibanderol sekitar 193 dolar AS per metrik ton (MT), sedangkan dari AS mencapai 194 dolar AS/MT.
Gandum dari Rusia tercatat 228 dolar AS/MT, sementara dari AS 233 dolar AS/MT. Adapun kedelai dari Argentina berada di kisaran 405 dolar AS/MT, sedangkan dari AS mencapai 418 dolar AS/MT.
Menghadapi kondisi tersebut, ia mendorong pemerintah menyusun strategi mitigasi agar industri domestik tetap terlindungi. Salah satu opsi yang dapat ditempuh adalah pemberian subsidi bagi pelaku industri yang menggunakan bahan baku dalam negeri.
“Misalnya subsidi jagung untuk pakan ternak bagi peternak kecil. Ini bisa memberi manfaat ganda bagi petani jagung dan peternak,” jelasnya.
Eliza juga menekankan pentingnya proteksi terhadap petani dan peternak dalam negeri. Jika petani enggan menanam karena kalah bersaing dengan produk impor, produksi nasional berisiko menurun sementara kebutuhan terus meningkat.
“Kondisi ini bisa meningkatkan ketergantungan impor dan membuat Indonesia semakin rentan terhadap gejolak geopolitik global,” pungkasnya. (*/BorneoFlash.com/ANTARA)








