“Kegiatan berbuka puasa bersama dilaksanakan setiap hari selama bulan Ramadan dan menjadi sarana untuk mempererat hubungan sosial antarjamaah,” katanya.
Dalam pelaksanaannya, seluruh kebutuhan konsumsi bergantung pada partisipasi masyarakat. Donasi dari jamaah maupun para dermawan dikelola secara terbuka dan diumumkan secara rutin kepada publik sebelum pelaksanaan salat tarawih.
Antusiasme masyarakat terhadap tradisi ini terus meningkat dari tahun ke tahun. Tidak hanya warga sekitar, pengunjung dari luar daerah juga turut hadir untuk merasakan suasana berbuka di masjid tersebut. Dalam satu hari, jumlah jamaah yang dilayani dapat mencapai ratusan orang.
“Jumlah jamaah yang mengikuti berbuka puasa di masjid ini dalam satu hari dapat mencapai sekitar 500 orang,” tuturnya.
Lebih dari sekadar hidangan berbuka, bubur peca juga memiliki nilai budaya yang kuat. Pada tahun 2025, kuliner ini telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda, sehingga semakin menguatkan posisinya sebagai bagian dari identitas lokal yang terus dijaga.
Melalui tradisi ini, masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi ruang untuk merawat solidaritas sosial.
Pengurus pun membuka kesempatan bagi masyarakat, termasuk rombongan dari luar daerah, untuk turut merasakan kebersamaan tersebut dengan melakukan koordinasi terlebih dahulu. (*)








