Jejak 140 Tahun Dakwah, Masjid Shirathal Mustaqiem Tetap Tegak di Samarinda Seberang

oleh -
Penulis: Nur Ainunnisa
Editor: Ardiansyah
Tampak depan Masjid Shirathal Mustaqiem di Jalan Pangeran Bendahara, Kelurahan Mesjid, Kecamatan Samarinda Seberang. Foto: BorneoFlash/Nur Ainunnisa
Tampak depan Masjid Shirathal Mustaqiem di Jalan Pangeran Bendahara, Kelurahan Mesjid, Kecamatan Samarinda Seberang. Foto: BorneoFlash/Nur Ainunnisa
banner 300×250

Ishak menuturkan, proses pendirian tiang utama menjadi bagian paling monumental dalam sejarah pembangunan masjid. Diameter tiang mencapai sekitar 60 sentimeter dengan tinggi lebih dari 10 meter.

 

“Terdapat kisah yang berkembang secara turun-temurun mengenai sosok tua berpakaian putih yang membantu proses pendirian tiang dengan syarat tidak seorang pun diperkenankan menyaksikannya,” katanya.

 

Ia melanjutkan, keesokan harinya masyarakat mendapati keempat tiang telah berdiri tegak. Cerita tersebut hingga kini menjadi bagian dari khazanah spiritual dan kearifan lokal yang melekat pada sejarah masjid.

 

Pembangunan masjid berlangsung sekitar satu dekade dan rampung pada 1891. Menaranya kemudian dibangun oleh seorang Belanda yang telah memeluk Islam, Henry Dassen atau Abraham Dassen. 

 

Peresmian masjid dilakukan oleh Sultan Kutai Kartanegara, Sultan Aji Muhammad Sulaiman, yang sekaligus menjadi imam pertama pada 27 Rajab 1311 Hijriah.

 

Momentum tersebut menandai pengakuan resmi Kesultanan Kutai terhadap masjid sebagai pusat syiar Islam di Samarinda Seberang.

 

Hingga kini, sejumlah peninggalan bersejarah masih tersimpan di dalam masjid, di antaranya mihrab yang pernah digunakan Sultan saat memimpin salat, peti kuno pemberian Henry Dassen, serta mushaf Al-Qur’an tulisan tangan berusia ratusan tahun.

 

Pada 2003, masjid ini meraih peringkat kedua dalam Festival Masjid Bersejarah di Jakarta.

 

“Penghargaan tersebut menjadi kebanggaan bagi masyarakat Samarinda sekaligus motivasi untuk terus menjaga kelestarian masjid ini,” tutur Ishak.q

 

Kini, Masjid Shirathal Mustaqiem tidak hanya menjadi destinasi religi, tetapi juga ruang pembelajaran sejarah bagi generasi muda. 

 

Di tengah modernisasi kota, bangunan ini tetap berdiri sebagai simbol kesinambungan dakwah dan identitas masyarakat Samarinda yang terpelihara dari generasi ke generasi.

Simak berita dan artikel BorneoFlash lainnya di  Google News

No More Posts Available.

No more pages to load.