Airlangga Hartarto: Kesepakatan ART Murni Dagang, Tanpa Isu Nuklir dan Pertahanan

oleh -
Penulis: Wahyuddin Nurhidayat
Editor: Ardiansyah
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto (tengah) bersama Menteri Investasi dan Hilirasasi Rosan Roeslani (kiri) dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya (kanan) menyampaikan keterangan pers terkait perjanjian perdagangan timbal balik Indonesia-AS di Washington DC, Amerika Serikat, Kamis (19/2/2026). Pemerintah Indonesia-AS resmi menandatangani perjanjian perdagangan timbal balik dengan pengenaan tarif sebesar 19 persen terhadap produk-produk asal Indonesia dengan pengecualian khusus bagi produk-produk tertentu seperti tekstil dan garmen. FOTO : ANTARA/Hafidz Mubarak A/nym/pri.
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto (tengah) bersama Menteri Investasi dan Hilirasasi Rosan Roeslani (kiri) dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya (kanan) menyampaikan keterangan pers terkait perjanjian perdagangan timbal balik Indonesia-AS di Washington DC, Amerika Serikat, Kamis (19/2/2026). Pemerintah Indonesia-AS resmi menandatangani perjanjian perdagangan timbal balik dengan pengenaan tarif sebesar 19 persen terhadap produk-produk asal Indonesia dengan pengecualian khusus bagi produk-produk tertentu seperti tekstil dan garmen. FOTO : ANTARA/Hafidz Mubarak A/nym/pri.
banner 300×250

BorneoFlash.com, JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa pembahasan Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat berfokus pada kerja sama perdagangan.

 

Airlangga menegaskan, substansi ART berbeda dari perjanjian serupa dengan negara lain. Indonesia dan AS tidak memasukkan pasal di luar isu ekonomi, sehingga kesepakatan hanya mencakup perdagangan dan investasi.

 

“Amerika Serikat sepakat mencabut pasal non-ekonomi, seperti reaktor nuklir, kebijakan Laut China Selatan, serta isu pertahanan dan keamanan perbatasan. ART ini murni perdagangan,” ujar Airlangga dalam konferensi pers virtual di Jakarta.

 

Indonesia dan AS menuntaskan perundingan tarif dagang di Washington, Kamis (20/2/2026) waktu setempat. Airlangga menandatangani ART bersama Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer.

 

Dalam kesepakatan itu, AS mempertahankan tarif resiprokal 19 persen untuk produk impor dari Indonesia, dengan pengecualian sejumlah produk bertarif 0 persen.

 

AS juga berkomitmen membentuk mekanisme agar produk tekstil dan garmen Indonesia memperoleh tarif 0 persen untuk volume tertentu. Kuota ditetapkan berdasarkan nilai ekspor tekstil yang diproduksi menggunakan kapas dan serat buatan asal AS.

 

Selain tekstil dan garmen, sebanyak 1.819 pos tarif produk Indonesia kini mendapat fasilitas pembebasan tarif hingga 0 persen. Produk yang termasuk dalam skema ini antara lain minyak sawit, kopi, kakao, rempah-rempah, karet, komponen elektronik seperti semikonduktor, serta komponen pesawat terbang. (*

Simak berita dan artikel BorneoFlash lainnya di  Google News

Jangan ketinggalan berita terbaru! Follow Instagram  dan subscribe channel YouTube BorneoFlash Sekarang

No More Posts Available.

No more pages to load.