Dalam mahakaryanya, Pedagogy of the Oppressed, Paulo Freire menekankan bahwa pendidikan haruslah memanusiakan manusia (humanisasi). Diskriminasi guru adalah bentuk dehumanisasi, ketika seorang guru dipandang hanya sebagai instrumen administratif (objek) dan bukan sebagai subjek intelektual yang merdeka, maka ia mengalami pengasingan (alienation).
Guru yang teralienasi tidak akan bisa membangun dialog yang autentik dengan siswa. Tanpa dialog, kepercayaan (trust) tidak akan pernah terbangun. Apartheid guru menciptakan jarak hierarkis yang membunuh ruh Pendidikan.
Untuk mengatasi krisis kepercayaan ini, kita tidak bisa hanya melakukan reformasi kurikulum. Kita butuh revolusi ontologis dalam memandang guru:
Penghapusan Sekat Kasta: Menghilangkan dikotomi kualitas berdasarkan status kepegawaian. Setiap individu yang berdiri di depan kelas harus memiliki hak dan martabat yang setara.
Restorasi Otoritas Pedagogis: Kepercayaan publik akan kembali jika guru diberikan ruang untuk merdeka secara intelektual, bukan sekadar menjadi pelaksana teknis regulasi.
Keadilan Distributif: Negara harus hadir untuk memastikan bahwa tidak ada guru yang merasa menjadi “warga negara kelas dua” dalam sistem pendidikan.
Kesimpulan
Krisis kepercayaan pada guru adalah alarm atas rusaknya bangunan ontologis pendidikan kita. Selama sistem pendidikan masih memelihara praktik “apartheid” yang mendiskriminasi guru berdasarkan status administratif dan ekonomi, maka pendidikan hanya akan menjadi panggung sandiwara.
Memulihkan kepercayaan publik berarti memulihkan kemanusiaan guru. Kita harus mengembalikan guru pada hakikatnya sebagai subjek yang merdeka, agar mereka mampu melahirkan manusia-manusia yang juga merdeka. (*)
Nama Penulis: Agus Priyono Marzuki S.Pd
Profesi: Guru
No WhatsApp: 085792185490
Email: agus16priyono.marzuki@gmail.com







