BorneoFlash.com, OPINI – Pendidikan di Indonesia dewasa ini sering kali terjepit di antara dua kutub besar: ambisi untuk mencetak talenta global yang kompetitif dan kewajiban moral untuk memanusiakan seluruh lapisan rakyat tanpa terkecuali.
Narasi mengenai “Sekolah Garuda Transformasi” yang merepresentasikan institusi modern, teknologis, dan berorientasi masa depan, bersandingan dengan “Sekolah Rakyat” yang berakar pada aksesibilitas dan realitas akar rumput.
Kedua konsep ini bukanlah entitas yang harus saling meniadakan, melainkan dua sayap yang mestinya mengepak bersama untuk menerbangkan martabat bangsa.
Melalui perspektif Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire, kita dapat melihat bahwa esensi pendidikan bukanlah tentang fasilitas, melainkan tentang pembebasan kesadaran dan kemandirian jiwa.
Sekolah Garuda Transformasi sering kali dipandang sebagai laboratorium keunggulan. Dalam kacamata Ki Hadjar Dewantara, institusi seperti ini mencerminkan bagian dari “Sistem Among” yang maju secara intelektual.
Namun, Ki Hadjar mengingatkan bahwa pendidikan harus memperhatikan Kodrat Alam dan Kodrat Zaman. Sekolah Garuda yang transformatif memenuhi tuntutan Kodrat Zaman dengan teknologi dan kurikulum globalnya.
Namun, risiko besar mengintai jika transformasi ini hanya bersifat mekanis. Paulo Freire menyebut adanya bahaya “Pendidikan Gaya Bank” (Banking Concept of Education), di mana siswa hanya dianggap sebagai bejana kosong yang diisi dengan data teknis dan keterampilan pasar agar kompetitif secara ekonomi.
Jika Sekolah Garuda Transformasi hanya fokus pada skor akademik dan efisiensi industri tanpa menumbuhkan kesadaran kritis, maka ia gagal menjadi institusi transformatif yang sesungguhnya.







