Sebaliknya, jika jumlah penumpang yang sama menggunakan sepeda motor, ruang yang terpakai bisa mencapai sekitar 60 meter persegi.
Perhitungan tersebut menunjukkan bahwa satu unit bus mampu menghemat sekitar 38,5 meter persegi ruang jalan dalam satu perjalanan. Dampak ini dinilai signifikan dalam mengurangi kepadatan lalu lintas di kawasan perkotaan.
“Semakin besar peralihan masyarakat ke angkutan umum, semakin besar pula ruang jalan yang dapat dipulihkan untuk kelancaran arus lalu lintas,” jelasnya.
Selain berdampak pada kelancaran lalu lintas, Dishub menilai penggunaan transportasi publik juga berkontribusi terhadap penertiban sosial di lapangan.
Berkurangnya penggunaan sepeda motor diyakini akan menekan praktik parkir sembarangan serta keberadaan juru parkir ilegal.
“Ketika intensitas penggunaan kendaraan pribadi menurun, persoalan parkir liar dan aktivitas juru parkir tidak resmi secara otomatis akan ikut berkurang,” katanya.
Manalu menambahkan, manfaat transportasi umum tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga sosial. Interaksi antarpengguna angkutan umum dinilai mampu memperkuat hubungan sosial dan membangun kembali budaya ruang publik yang lebih inklusif.
“Di dalam angkutan umum, interaksi antarmasyarakat tidak terhindarkan, dan hal tersebut berdampak positif bagi kehidupan sosial perkotaan,” pungkasnya.








