Pedagang Akbar Collection, Jufriansyah, menilai penanganan persoalan tempias hujan perlu dilakukan secara cermat tanpa mengubah konsep utama bangunan pasar yang dirancang terbuka.
“Pasar ini sejak awal mengusung konsep terbuka. Apabila dilakukan penutupan permanen, sirkulasi udara akan terganggu dan justru dapat menimbulkan persoalan baru,” kata Jufriansyah.
Menurutnya, solusi yang lebih tepat adalah penggunaan penutup fleksibel, seperti panel atau jendela yang hanya difungsikan saat cuaca ekstrem. Cara tersebut dinilai tidak mengganggu estetika bangunan maupun fungsi awal pasar.
“Kami berharap tidak ada pedagang yang memasang penutup secara mandiri dengan bahan seadanya, karena akan merusak tampilan pasar. Penanganan sebaiknya dilakukan secara resmi oleh Dinas Perdagangan,” ujarnya.
Ia menyampaikan bahwa Dinas Perdagangan telah merespons keluhan tersebut dan berencana berkoordinasi dengan Dinas PUPR untuk merumuskan solusi teknis yang sesuai. Penggunaan material yang tidak seragam, lanjutnya, juga berpotensi menurunkan standar konstruksi bangunan.
Sementara itu, Mashuda menambahkan bahwa pihak Dinas Perdagangan telah turun langsung ke lokasi untuk meninjau area kios yang terdampak tempias hujan.
“Beberapa lapak sudah diperiksa, termasuk lapak saya. Pihak dinas menyampaikan bahwa temuan ini akan ditindaklanjuti,” tuturnya.
Hingga kini, belum ada laporan kerusakan barang dagangan. Para pedagang masih fokus melakukan penataan kios dan penyusunan stok sambil menunggu proses peresmian Pasar Pagi Samarinda.
“Sejauh ini belum ada laporan kerugian, karena sebagian besar pedagang masih dalam tahap pindah dan menata lapak,” pungkas Jufriansyah.








