Berdasarkan hasil analisis EWS, terdapat tujuh komoditas yang teridentifikasi memiliki andil inflasi di atas target. Komoditas tersebut meliputi beras, minyak goreng, daging ayam ras, cabai rawit, bawang merah, tomat, serta sektor angkutan udara.
Seluruhnya dinilai rentan mengalami kenaikan harga seiring meningkatnya mobilitas dan permintaan masyarakat menjelang Nataru.
Heni menjelaskan, sistem peringatan dini tersebut tidak hanya digunakan untuk memotret kondisi harga pada satu waktu, tetapi juga menjadi dasar perencanaan kebijakan pengendalian inflasi dalam jangka pendek maupun menengah.
“Melalui EWS ini, kami dapat melihat kecenderungan inflasi di Kalimantan Timur sekaligus menentukan langkah-langkah pengendalian yang perlu diprioritaskan,” katanya.
Sebagai bagian dari strategi pengendalian, DPPKUKM menyiapkan sejumlah bentuk intervensi, salah satunya melalui pelaksanaan operasi pasar. Kebijakan tersebut difokuskan untuk menekan biaya distribusi, terutama komponen transportasi yang kerap memicu disparitas harga antarwilayah.
“Skema yang diterapkan antara lain melalui subsidi atau pengurangan biaya transportasi dari pasar induk di kota ke daerah tujuan distribusi. Dengan demikian, harga komoditas di wilayah terpencil diharapkan tidak mengalami selisih yang signifikan dibandingkan harga di pusat,” pungkas Heni.





