Menurutnya, dampak ekonomi tersebut akan dirasakan langsung oleh masyarakat, mulai dari meningkatnya tingkat hunian hotel, berkembangnya sektor kuliner, transportasi darat, hingga penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Selain itu, peningkatan arus wisatawan dan pelaku usaha juga diharapkan mampu mendorong kenaikan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Lebih lanjut, Andi Harun menyebut keberhasilan rute Samarinda–Kuala Lumpur nantinya akan menjadi pintu masuk bagi pengembangan rute internasional lainnya.
Pemkot Samarinda menargetkan kerja sama penerbangan dengan sejumlah negara di kawasan ASEAN maupun Asia Timur.
“Setelah rute Kuala Lumpur berjalan, kami membuka peluang pengembangan penerbangan ke negara lain seperti Singapura, Thailand, hingga Korea Selatan, khususnya rute yang dapat dilayani pesawat berbadan sedang seperti Boeing 737 atau Airbus A320,” jelasnya.
Meski demikian, ia mengakui Bandara APT Pranoto masih memiliki keterbatasan infrastruktur, terutama pada panjang landasan pacu yang belum memungkinkan untuk operasional pesawat berbadan lebar untuk penerbangan jarak jauh.
Untuk mengatasi hal tersebut, Pemkot Samarinda akan terus berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan serta mengharapkan dukungan dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur.
“Kami berharap adanya dukungan pemerintah provinsi agar pengembangan landasan pacu dapat direalisasikan, sehingga Bandara APT Pranoto benar-benar siap melayani penerbangan internasional secara maksimal,” pungkasnya.







