BorneoFlash.com, JAKARTA – Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menyoroti bias budaya pada platform kecerdasan buatan (AI) yang banyak dikembangkan di luar negeri. Ia menilai AI berbasis model bahasa besar (LLM) yang digunakan di Indonesia umumnya menggunakan data dari negara asal pengembang, sehingga sering tidak sesuai dengan konteks sosial dan budaya Indonesia.
Nezar menegaskan bahwa AI membawa nilai dan preferensi budaya dari lingkungan asalnya, sehingga kerap menimbulkan bias saat digunakan di negara lain. Karena itu, ia mendorong pengembangan platform AI dalam negeri yang berlandaskan nilai dan budaya bangsa untuk memperkuat kedaulatan teknologi nasional.
Menurut Nezar, Pancasila dapat menjadi dasar nilai dalam pengembangan AI nasional. Ia juga mengajak akademisi dan peneliti memperbanyak riset AI yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat serta mendukung tata kelola dan transformasi digital yang berkeadilan.
Dalam Kagama–UGM Policy Dialogue 2025 di UGM Yogyakarta, Nezar menjelaskan bahwa perkembangan LLM melahirkan berbagai platform canggih yang mampu menjawab pertanyaan, menghasilkan karya audio-visual, dan membantu menyelesaikan beragam persoalan. Namun, ia juga menekankan pentingnya pengembangan model bahasa kecil (SLM) yang menggunakan data spesifik agar memberikan jawaban lebih akurat di bidang tertentu.
Nezar mencontohkan, SLM dapat memanfaatkan data kebijakan publik untuk memudahkan masyarakat memperoleh informasi relevan tanpa harus menguasai teknik prompt yang rumit. (*)








