Museum Kayu Tuah Himba Diharapkan Jadi Ikon Edukasi Budaya di Kutai Kartanegara

oleh -
Penulis: Ernita Sriana
Editor: Ardiansyah
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kukar, Puji Utomo. Foto: BorneoFlash/Ernita Sriana
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kukar, Puji Utomo. Foto: BorneoFlash/Ernita Sriana

BorneoFlash.com, KUKAR – Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutai Kartanegara (Kukar), Puji Utomo, menegaskan pentingnya upaya pelestarian seni, budaya, serta pengetahuan tradisional melalui pengembangan Museum Kayu Tuah Himba di Kota Tenggarong.

 

Dalam kesempatan tersebut, Puji menjelaskan bahwa museum ini hadir dengan tujuan utama memperkenalkan kembali kekayaan seni dan budaya lokal kepada masyarakat, khususnya generasi muda.

 

Museum Kayu Tuah Himba menampilkan beragam koleksi kayu khas daerah, termasuk artefak dan sejarah perkembangan kayu di wilayah setempat.

 

Puji mengungkapkan bahwa aktivitas tradisi dan pelestarian kayu di daerah itu mengalami penurunan signifikan.

 

“Sekarang penyumbangnya hanya 3–4 orang per hari, berbeda dengan dulu yang bisa mencapai 40 orang. Kami ingin menggiatkan kembali minat masyarakat agar mengetahui bahwa Museum Kayu masih ada dan tetap dilestarikan,” ucap Puji Utomo, pada Kamis (27/11/2025).

 

Ia menambahkan bahwa kegiatan pelestarian budaya yang dilakukan ini juga berpeluang masuk dalam Memory of the World di bawah naungan UNESCO. Hal tersebut menjadi dorongan kuat bagi Disdikbud Kukar untuk terus mendata, meneliti, dan mengarsipkan sejarah kayu dan tradisi masyarakat yang berkaitan dengannya.

 

Puji menilai masih banyak versi sejarah yang berkembang di masyarakat, sehingga diperlukan pendokumentasian yang kuat dan akurat.

 

“Kalau sejarah memang banyak versinya, tetapi sejarah tetaplah data. Maka dari itu kami mencatat dan meneliti apa yang dapat ditemukan sekarang sebagai pengetahuan bagi generasi berikutnya,” jelasnya.

 

Ia juga memberikan pesan khusus kepada para pelajar agar tidak mengabaikan sejarah daerah sendiri. Menurutnya, mempelajari sejarah adalah cara penting untuk memahami perjalanan bangsa. 

 

“Saya juga dulu tidak tahu banyak soal kebudayaan sebelum terjun di bidang ini. Jadi saya berharap adik-adik pelajar bisa lebih tertarik mempelajari sejarah, karena dari sejarah itu kita mengenal jati diri bangsa,” tambah Puji.

Baca Juga :  Diikuti Beberapa Negara, Peringatan Jalan Kaki Sedunia 2024 dan Tafisa Asean Forum di Balikpapan

 

Puji pun mengajak masyarakat luas, termasuk penggiat dan pelajar yang tertarik pada dunia perkayuan maupun teknologi pengolahan kayu, untuk datang dan belajar di Museum Kayu Tuah Himba. Ia berharap museum tersebut dapat berkembang menjadi pusat edukasi budaya dan teknologi kayu yang bermanfaat bagi masyarakat.

Simak berita dan artikel BorneoFlash lainnya di  Google News

Jangan ketinggalan berita terbaru! Follow Instagram  dan subscribe channel YouTube BorneoFlash Sekarang

No More Posts Available.

No more pages to load.