Syaparuddin memaparkan bahwa persoalan ini dipicu oleh penyempitan dan sedimentasi pada drainase mulai dari simpang Masjid Baitul Khair hingga warung Haji Kuni.
Panjang saluran yang membutuhkan penanganan diperkirakan mencapai 1.100 meter.
Keadaan semakin diperparah oleh limpasan air dari Bukit Pinang yang belum memiliki jalur pembuangan yang memadai.
Sebagai langkah penanganan cepat, TWAP telah melakukan perbaikan sementara pada SMPN 24, yang paling sering terdampak banjir.
Pembersihan saluran di sisi kiri dan kanan sekolah kini sedang dilakukan.
“Untuk penanganan jangka pendek di SMPN 24, kami melakukan perbaikan pada saluran drainase di sisi kiri dan kanan sekolah,” ujar Syaparuddin.
Selain itu, dua titik pintu air yang menjadi jalur masuk air ke lingkungan sekolah juga telah ditutup untuk menekan risiko banjir.
“Dua akses air di pagar sekolah sudah kami tutup, termasuk satu pintu air tambahan di bagian depan yang juga akan ditutup,” tambahnya.
Di kawasan Batu Cermin,TWAP menemukan bahwa SMPN 27 tidak membutuhkan relokasi.
Struktur bangunan dinilai masih stabil, meskipun area belakang sekolah mengalami tekanan tanah yang mengindikasikan potensi longsor.





