BorneoFlash.com, Ponorogo (Jawa Timur) – Isak tangis keluarga dan kerabat mengiringi kedatangan jenazah Wigih Hartono, korban longsor tambang PT Freeport Indonesia, saat tiba di rumah duka dan dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Desa Nambak, Kecamatan Bungkal, Ponorogo, Jawa Timur, Minggu dini hari.
Keluarga menyalatkan jenazah terlebih dahulu sebelum memakamkannya di TPU yang berjarak tak jauh dari rumah duka. Wigih meninggalkan seorang istri dan dua anak.
Petugas menemukan Wigih sebagai satu dari tujuh pekerja PT Freeport Indonesia yang berhasil dievakuasi dari reruntuhan material tambang bawah tanah Grasberg Block Cave, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, Senin (8/9).
Rohmat, kakak ipar Wigih, menjelaskan bahwa almarhum berasal dari Tulungagung dan menetap di Ponorogo setelah menikah. “Hartono sudah tujuh tahun bekerja di Freeport. Terakhir pulang pada Agustus lalu untuk cuti dua pekan sebelum kembali ke Papua,” kata Rohmat.
Proses pemulangan jenazah berlangsung panjang. Petugas menerbangkan jenazah dari Papua menggunakan pesawat Airfast ke Bandara YIA Yogyakarta, lalu ke Bandara Juanda, dan melanjutkan perjalanan darat ke Ponorogo.
Istri Wigih, Jarmini, yang mendampingi perjalanan jenazah, tampak sangat terpukul bahkan sempat pingsan ketika peti jenazah suaminya tiba.
Rohmat mengenang Wigih sebagai sosok pekerja keras dan penuh tanggung jawab. “Beliau humoris, sederhana, dan selalu rajin menafkahi keluarga. Selama bekerja di Freeport biasanya pulang setiap enam bulan sekali,” ujarnya.
Sebelum bergabung dengan PT Freeport sebagai teknisi listrik tujuh tahun lalu, Wigih pernah menjadi TKI di Malaysia dan bekerja sebagai tukang las. “Kami tidak menyangka kepergiannya begitu cepat. Hidupnya baru tertata, tapi musibah datang mendadak,” tutur Rohmat. (*/ANTARA)







