Israel menolak tudingan memperparah krisis kemanusiaan, dengan alasan Hamas bisa menghentikan perang jika menyerah, membebaskan sandera, melucuti senjata, dan membubarkan diri.Namun, Hamas menegaskan tidak akan menyerahkan senjata hingga berdirinya negara Palestina.
Kelompok itu sebelumnya memimpin serangan ke Israel pada 7 Oktober 2023, yang menewaskan 1.200 orang dan menyandera 251 orang. Saat ini, 48 sandera masih berada di Gaza, dengan sekitar 20 di antaranya diyakini masih hidup.
Sementara itu, Inggris menyatakan siap mendukung pengakuan negara Palestina dalam Sidang Majelis Umum PBB di New York. Namun, Wakil Perdana Menteri Inggris, David Lammy, menegaskan bahwa langkah tersebut bukan berarti perdamaian akan terwujud dalam semalam.
“Setiap langkah untuk mengakuinya adalah karena kami ingin menjaga tetap hidup prospek solusi dua negara,” ujar Lammy kepada Sky News, Minggu (21/9/2025).
Ia menambahkan, keputusan resmi akan diumumkan oleh Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, pada pekan ini.
Pada Juli lalu, Starmer telah menyatakan komitmen untuk mengakui negara Palestina dengan beberapa syarat, antara lain Israel mencapai gencatan senjata dengan Hamas, membuka akses bantuan ke Gaza, menghentikan aneksasi Tepi Barat, serta berkomitmen pada solusi dua negara sebagai jalan perdamaian. (*)





