BorneoFlash.com, BALIKPAPAN – Hampir semua sektor terkena imbas adanya pandemi Covid-19 tak terkecuali dunia usaha yang merasakan dampaknya.
Hal tersebut seperti yang dirasakan oleh anggota Primer Koperasi Tahu Tempe Indonesia (Primkopti) Balikpapan yang beralamat di Rt 85 kelurahan Muara Rapak.
Dimana mereka saat ini mengeluhkan kenaikan harga bahan baku tahu tempe yaitu kedelai yang harganya naik hingga 50 persen.
” Dari harga sebelumnya, semula harga 7500 per kg kini menjadi 11.100 per kg,” ujar Wakil ketua Primkopti Arifin saat ditemui di kantornya jum’at (28/5/2021).
Dia terangkan, sejak adanya pandemi Covid-19 para anggota mengalami biaya yang cukup tinggi dan kenaikan kedelai yang sangat tinggi serta pendapatan pengusaha menurun.
Hal itu dikatakan bukan tanpa alasan. Kendala utama yang dialami pelaku saat ini kata dia, lebih kepada masalah transportasi yang terhambat karena adanya sering banjir akibat air laut yang meluap ke jalanan sehingga tidak bisa dilewati.
” Kami berharap pemerintah dengan jajarannya bisa cari solusi gimana terbaiknya itu, karena kalau bahan seperti tahu tempe ini tidak bisa ditunda besok dipasarkan,” terangnya.
Lebih lanjut Arifin sampaikan, bahwa tahu tempe ini merupakan ekonomi merakyat yang mereka andalkan hingga saat ini, walaupun mereka juga menjerit dengan kenaikan kedelai yang sangat tinggi.
“Sebagai isu nasional juga kedelai naik, yang mengakibatkan kita menjerit. Kalau di daerah lain banyak yang sudah mogok produksi, Alhamdulillah dengan adanya Primkopti sebagai wadah pengrajin tahu tempe di Balikpapan bisa bertahan,”paparnya.
Dia sampaikan, mereka tidak tahu harus menuntut kemana. Mereka saat ini hanya bisa pasrah dan menjalani sambil menunggu solusi dari pemerintah.
“Ya kita jalani semoga cepat berlalu dan pemerintah juga akan ada solusinya. Kita UMKM adalah tulang punggung ekonomi rakyat, apalagi Primkopti Balikpapan ini satu satunya yang eksis di Indonesia,” bebernya.

Hal senada juga disampaikan, sekretaris Primkopti Balikpapan Imam mengatakan beruntung Balikpapan terdapat Primkopti sehingga harga kedelai dapat dikendalikan.
“Karena ini ada koperasi, sehingga pelaku usaha yang sejenis koperasi misalnya jual kedelai yang lain. Dia gak bisa main main karena adanya Primkopti,”tandasnya.
Penutupan pihaknya berharap. Agar UMKM yang ada di somber diperhatikan terutama transportasi agar lancar dan harga kedelai bisa dikendalikan agar para pelaku usaha tahu tempe bisa terus menjalankan usahanya untuk menopang perekonomian.
(BorneoFlash.com/Eko)





