BorneoFlash.com, JAKARTA – Situasi di kawasan Timur Tengah kian memanas setelah Islamic Revolutionary Guard Corps menegaskan penutupan Selat Hormuz bagi kapal-kapal yang dianggap terkait dengan negara musuh.
Jalur vital yang selama ini menjadi nadi distribusi sekitar seperlima minyak dunia itu kini berada dalam tekanan konflik berskala besar.
Dampaknya langsung dirasakan Indonesia. Dua kapal tanker milik PT Pertamina International Shipping, yakni Pertamina Pride dan Gamsunoro, hingga kini belum dapat melintasi Selat Hormuz dan masih tertahan di kawasan Teluk Arab.
Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, Santo Darmosumarto, menegaskan pemerintah terus melakukan upaya diplomasi intensif melalui Kedutaan Besar RI di Teheran.
“Upaya komunikasi dan koordinasi dengan pemerintah Iran terus dilakukan untuk memastikan kepentingan Indonesia, khususnya kapal Pertamina, dapat tetap terlindungi dan melintas dengan aman,” ujarnya.
Ia mengakui kondisi di lapangan masih belum kondusif, namun jalur diplomasi terus diupayakan agar kapal Indonesia mendapat jaminan keamanan.
Kapal Tertahan, Energi Nasional Jadi Perhatian
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengungkapkan, dua kapal tersebut saat ini memilih bersandar untuk menghindari risiko konflik terbuka.





