BorneoFlash.com, SAMARINDA – Prevalensi stunting di Kalimantan Timur (Kaltim) pada 2024 masih berada pada level yang mengkhawatirkan. Angkanya tercatat sebesar 22,2 persen, hanya turun 0,6 persen dibandingkan kondisi pada 2021.
Capaian tersebut dinilai belum sebanding dengan berbagai upaya yang telah dilakukan pemerintah daerah selama tiga tahun terakhir, termasuk alokasi anggaran ratusan miliar rupiah dan pelaksanaan puluhan program lintas sektor.
DPRD Kaltim Menilai lambannya penurunan stunting tidak lepas dari persoalan mendasar yang belum tertangani secara menyeluruh.
Permasalahan tersebut mencakup ketepatan pendataan, efektivitas intervensi di lapangan, hingga lemahnya koordinasi antarwilayah.
Situasi ini pun menjadi perhatian serius Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltim.
Wakil Gubernur Kaltim, Seno Aji, menyebut kondisi tersebut sebagai peringatan keras bagi seluruh pemangku kebijakan di daerah.
Ia menegaskan bahwa angka stunting Kaltim masih berada di atas batas aman dan membutuhkan langkah percepatan yang lebih terarah.





