“Dengan pengurangan sampah, kita bisa menghindari berbagai bencana lingkungan. Sampah bukan lagi masalah, tapi bisa menjadi solusi jika dikelola dengan benar,” jelasnya.
Gerakan ini juga diperkuat melalui pembentukan bank sampah di berbagai titik. Saat ini, tercatat sekitar 100 bank sampah telah terbentuk di Balikpapan dan menjadi bagian dari jaringan pengelolaan berbasis masyarakat, dengan Prayitno sebagai salah satu penggeraknya di tingkat kota.
Ia menekankan pentingnya peran generasi muda dalam menjaga keberlanjutan program ini. Berbagai kegiatan edukasi, termasuk lomba pengelolaan sampah, rutin digelar untuk meningkatkan kesadaran sejak dini.
Namun, tantangan tetap ada. Meningkatnya jumlah pendatang di Balikpapan turut memunculkan persoalan baru, terutama terkait kebiasaan membuang sampah sembarangan.
“Ini menjadi ujian bagi kita semua. Kesadaran harus terus dibangun, tidak hanya bagi warga lama, tetapi juga pendatang,” katanya.
Prayitno berharap seluruh masyarakat Balikpapan dapat memiliki karakter peduli lingkungan, khususnya dalam hal pengelolaan sampah. Dukungan masyarakat selama ini dinilai menjadi kunci keberhasilan gerakan tersebut.
Berbagai inovasi yang terus dikembangkan, Balikpapan kini mulai dipandang sebagai salah satu barometer pengelolaan sampah di tingkat nasional. Ke depan, gerakan ini diharapkan semakin meluas dan mampu menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, sekaligus bernilai ekonomi bagi masyarakat. (*)





