Polda Kaltim Soroti Disiplin Berkendara saat Operasi Ketupat Mahakam 2026

oleh -
Penulis: Niken Sulastri
Editor: Ardiansyah
Dirlantas Polda Kaltim, Kombes Pol Ahmad Yanuari Insan, saat Release Akhir Operasi Ketupat Mahakam 2026, di Aula Ditlantas Polda Kaltim, pada Jumat (27/3/2026). Foto: BorneoFlash/Niken Sulastri
Dirlantas Polda Kaltim, Kombes Pol Ahmad Yanuari Insan Tengah), saat Release Akhir Operasi Ketupat Mahakam 2026, di Aula Ditlantas Polda Kaltim, pada Jumat (27/3/2026). Foto: BorneoFlash/Niken Sulastri

BorneoFlash.com, BALIKPAPAN – Tingginya mobilitas masyarakat selama arus mudik dan balik Lebaran 2026 di Kalimantan Timur (Kaltim), berdampak langsung pada angka kecelakaan lalu lintas. 

 

Dalam pelaksanaan Operasi Ketupat Mahakam 2026, Polda Kaltim mencatat 30 kasus kecelakaan, dengan 10 korban meninggal dunia.

 

Direktur Lalu Lintas (Dirlantas) Polda Kaltim, Kombes Pol Ahmad Yanuari Insan, mengungkapkan bahwa kecelakaan menjadi salah satu gangguan kamtibmas yang menonjol selama operasi yang berlangsung pada 13–25 Maret 2026 tersebut.

 

“Dari total 229 kejadian gangguan kamtibmas, kecelakaan lalu lintas menjadi salah satu yang cukup dominan dengan 30 kasus,” ucapnya, saat Release Akhir Operasi Ketupat Mahakam 2026, di Aula Ditlantas Polda Kaltim, pada Jumat (27/3/2026).

 

Secara keseluruhan, gangguan Keamanan dan Ketertiban (Kamtibmas) terdiri dari 205 kasus kejahatan, 2 pelanggaran, 18 gangguan, dan 4 bencana. Dari sisi kejahatan, kasus konvensional mendominasi dengan 179 kejadian, diikuti kejahatan transnasional 24 kasus yang mayoritas merupakan narkotika sebanyak 19 kasus.

 

Ahmad Yanuari menjelaskan, kecelakaan didominasi kendaraan roda dua dengan 33 unit terlibat dari total 56 kendaraan. Sementara mobil penumpang tercatat 13 unit, kendaraan barang 8 unit, dan bus 2 unit.

 

Faktor penyebab utama kecelakaan masih didominasi kesalahan pengemudi. “Paling banyak karena tidak menjaga jarak, kemudian kesalahan saat mendahului atau berpindah jalur,” jelasnya.

 

Selain itu, faktor kelelahan atau mengantuk juga menjadi penyumbang kecelakaan, di samping kelalaian dalam mengutamakan pejalan kaki dan kondisi kendaraan.

 

Jenis tabrakan yang paling sering terjadi adalah tabrakan depan dengan depan sebanyak 10 kejadian, disusul tabrakan depan samping dan depan belakang.

 

Data kepolisian menunjukkan, waktu paling rawan kecelakaan terjadi pada pukul 15.00–18.00 WITA, saat aktivitas masyarakat meningkat. Sementara dari sisi lokasi, mayoritas kecelakaan terjadi di kawasan permukiman dan di jalan nasional.

Simak berita dan artikel BorneoFlash lainnya di  Google News

No More Posts Available.

No more pages to load.