Di sisi lain, peran keluarga dalam pembelajaran daring juga menjadi variabel yang memengaruhi hasil belajar siswa. Tidak semua orang tua dapat terlibat aktif karena keterbatasan waktu maupun kemampuan.
Kondisi tersebut diperkuat oleh fakta bahwa tidak seluruh wilayah di Kukar memiliki akses internet yang stabil. Perbedaan ini dinilai berpotensi memperlebar kesenjangan hasil belajar antar siswa.
“Kalau dipaksakan, justru bisa menimbulkan ketimpangan. Itu yang kami hindari,” tegasnya.
Sebagai perbandingan, ia menyebut sejumlah daerah lain dengan dukungan infrastruktur yang lebih memadai mulai mengarah pada sistem pembelajaran digital. Namun, pendekatan tersebut dinilai belum sepenuhnya relevan untuk diterapkan di Kukar.
Berdasarkan berbagai indikator tersebut, Disdikbud Kukar memutuskan untuk tetap mengedepankan pembelajaran tatap muka sebagai sistem utama.
Meski demikian, pemanfaatan teknologi akan tetap dikembangkan sebagai bagian dari strategi pembelajaran pendukung.
“Kami tetap mengikuti perkembangan, tapi penerapannya harus disesuaikan dengan kondisi daerah,” tutupnya. (*)







