“Ramadan sudah dimuliakan oleh Allah, lalu dimuliakan lagi dengan sepuluh malam terakhir. Inilah yang seharusnya menjadi buruan kita,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan agar kelelahan fisik tidak mengalahkan semangat iman.
“Jangan sampai kita lelah dalam beribadah, lalu kelelahan itu justru mengalahkan keimanan kita. Justru di penghujung Ramadan inilah kita harus semakin semangat memperbaiki diri,” tambahnya.

Keistimewaan malam tersebut juga terasa melalui kebersamaan yang dihadirkan oleh Aqiqoh Nurul Hayat. Hidangan gulai dan kambing guling yang disajikan bukan sekadar santapan, tetapi menjadi simbol kebahagiaan berbagi di bulan penuh ampunan.
Pimpinan Cabang Nurul Hayat Balikpapan menyampaikan bahwa keterlibatan mereka merupakan bentuk syukur bisa turut meramaikan malam ke-27 Ramadan.
“Kami ingin berbagi kebahagiaan, meramaikan malam istimewa ini bersama Katro dan seluruh jamaah,” ungkapnya.

Di penghujung malam, ketika doa-doa dipanjatkan dengan penuh harap, tak ada yang benar-benar tahu apakah itulah malam Laylatul Qadar. Namun yang pasti, kehangatan, kebersamaan, dan ketulusan ibadah malam itu menjadi kenangan yang sulit dilupakan.
Masjid Baitul Anwar dan Katro Balikpapan berharap, momen ini bukan sekadar kegiatan tahunan, tetapi menjadi titik balik bagi setiap jamaah untuk terus mendekatkan diri kepada Allah—tidak hanya di Ramadan, tetapi juga setelahnya. (*)









