Ia optimistis, jika tren penghimpunan terus meningkat, maka daya jangkau bantuan pun akan semakin luas. “Harapan kita bukan hanya naik dua kali lipat, tetapi bisa jauh lebih besar lagi. Artinya, semakin banyak masyarakat yang menjadi pemberi zakat,” katanya.
Dalam suasana penuh haru, Rahmad bahkan mendoakan agar para penerima zakat suatu hari dapat bertransformasi menjadi muzakki. Baginya, perubahan status dari penerima menjadi pemberi adalah indikator keberhasilan pembangunan kesejahteraan.
“Saya berdoa mudah-mudahan tahun depan Ibu dan Bapak sudah tidak lagi datang sebagai penerima, tetapi sebagai pemberi zakat. Itu bukan hal mustahil jika kita terus berusaha dan berdoa,” tuturnya.
Ia menilai, doa dan ikhtiar harus berjalan beriringan. Pemerintah, lembaga zakat, dan masyarakat perlu terus berkolaborasi agar distribusi kesejahteraan lebih merata.

Rahmad menegaskan bahwa kepemimpinan bukan soal jabatan atau fasilitas, melainkan tentang amanah dan keikhlasan dalam melayani.
“Menjadi pemimpin itu amanah. Kalau dijalankan dengan ikhlas, insya Allah terasa ringan dan penuh keberkahan,” ujarnya.
Ramadan tahun ini, lanjutnya, harus dimaknai sebagai gerakan bersama memperkuat empati sosial. Dengan sinergi pemerintah, Baznas, dan masyarakat, Balikpapan diharapkan semakin kokoh sebagai kota yang tumbuh bukan hanya secara ekonomi, tetapi juga dalam solidaritas dan keadilan sosial. (*)







