Selain itu, penguatan struktur tanah menggunakan material geotekstil juga akan diterapkan pada sejumlah titik dengan karakteristik tertentu.
Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan kestabilan tanah sekaligus menjaga ketahanan infrastruktur di kawasan tersebut.
“Area yang berpotensi longsor akan kami kurangi dengan melakukan penggalian sekitar lima hingga sepuluh meter ke dalam. Dengan demikian, apabila terjadi longsor, material tidak lagi langsung mengenai badan jalan,” jelasnya.
Pendekatan penggalian dipilih dengan mempertimbangkan aspek sosial dan administratif, terutama terkait kepemilikan lahan di sekitar tebing. Metode ini dinilai lebih fleksibel dibandingkan pembangunan turap yang biasanya memerlukan proses perizinan lebih kompleks.
Di sisi lain, pemerintah juga akan membenahi sistem drainase guna mengendalikan aliran air hujan agar tidak langsung menggerus lereng.
Penataan ini menjadi bagian penting dalam strategi mitigasi, mengingat air permukaan selama ini menjadi salah satu faktor utama penyebab ketidakstabilan tanah.
Meskipun akses jalan telah sepenuhnya pulih, upaya mitigasi akan terus dilanjutkan sepanjang tahun.
Beberapa titik dengan kondisi tebing yang tinggi bahkan memerlukan kajian teknis lebih mendalam karena membutuhkan biaya yang cukup besar.
“Terdapat sejumlah titik yang telah teridentifikasi rawan, khususnya pada tebing dengan ketinggian signifikan. Penanganannya memerlukan perencanaan yang matang karena kebutuhan anggarannya juga relatif besar,” pungkasnya.








