“Pelayanan ini tidak bersifat eksklusif bagi sekolah Muhammadiyah. Penyalurannya akan disesuaikan dengan kebutuhan dan penugasan yang ditetapkan, meskipun saat ini sekolah terdekat berada di lingkungan Muhammadiyah,” jelasnya.
Saat ini, fasilitas tersebut masih menjadi satu-satunya titik layanan di Samarinda. Ke depan, Muhammadiyah menargetkan adanya penambahan unit layanan serupa, baik di dalam kota maupun di wilayah kabupaten dan kota lainnya di Kaltim.
“Kami merencanakan pengembangan titik layanan berikutnya, tidak hanya di Samarinda tetapi juga di berbagai daerah lain di Kalimantan Timur,” katanya.
Selain memperluas jangkauan layanan, Muhammadiyah juga tengah menyiapkan sistem penyediaan bahan pangan berbasis internal organisasi. Kebutuhan operasional MBG diupayakan berasal dari kader serta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) binaan Muhammadiyah.
Skema ini melibatkan Majelis Ekonomi serta lembaga pemberdayaan yang ada di lingkungan persyarikatan, sehingga program tidak hanya berdampak pada peningkatan gizi siswa, tetapi juga turut mendorong perputaran ekonomi di kalangan kader.
“Apabila bahan pangan tersedia di lingkungan kader, maka pemenuhan kebutuhan akan diprioritaskan dari kader atau UMKM binaan Muhammadiyah untuk mendukung operasional SPPG,” terangnya.
Ia menegaskan bahwa Muhammadiyah akan menjaga kualitas layanan serta kepercayaan yang telah diberikan dalam pengelolaan program tersebut.
“Kami berkomitmen melaksanakan amanah ini secara optimal. Seluruh persiapan yang dilakukan telah memenuhi ketentuan dan standar yang berlaku,” pungkasnya. (*)





