Namun, operasi tersebut memicu gelombang kekerasan balasan. Blokade jalan, pembakaran kendaraan, dan bentrokan bersenjata terjadi di sejumlah negara bagian, termasuk Tamaulipas, Michoacan, dan Nayarit.
Gubernur Jalisco, Pablo Lemus Navarro, menetapkan peringatan merah. Transportasi umum ditangguhkan, acara publik dibatalkan, dan kegiatan belajar tatap muka dihentikan pada Senin (23/2/2026).
Kabinet Keamanan Meksiko mengerahkan pasukan tambahan untuk mengendalikan situasi. Bandara tetap beroperasi, meski sebagian besar penerbangan dari Puerto Vallarta dibatalkan.
Sejumlah negara mengeluarkan peringatan perjalanan. Pemerintah AS meminta warganya berlindung di Jalisco, Tamaulipas, sebagian Michoacan, Guerrero, dan Nuevo Leon.
Wakil Menteri Luar Negeri AS, Christopher Landau, menyebut operasi ini sebagai “perkembangan besar bagi Meksiko, AS, Amerika Latin, dan dunia,” meski mengakui adanya potensi kekerasan lanjutan.
Sementara itu, Kanada memperingatkan warganya terkait potensi kekerasan dan blokade di Jalisco. Maskapai Air Canada bahkan menangguhkan penerbangan akibat situasi keamanan yang memburuk.
Di tengah situasi mencekam, Kedutaan Besar Meksiko di AS membantah kabar di media sosial yang menyebut CJNG akan menyerang warga sipil, dan menegaskan informasi tersebut sebagai disinformasi. (*/ANTARA)








