“Ilmu apa pun yang kita terima di Masjid Istiqlal akan terhubung dengan apa yang kita terima di masjid ini. Ini adalah masjid kembar. Kalau saya hadir di sini, maka Istiqlal melalui Zoom. Kalau saya di Istiqlal, maka di sini yang Zoom. Begitu juga dengan penceramah lainnya,” jelasnya.
Ia menegaskan, IKN diharapkan berkembang sebagai pusat peradaban baru dunia Islam yang menjunjung tinggi nilai toleransi dan harmoni antarumat beragama dalam satu kawasan.
“Insyaallah IKN ini akan menjadi pusat peradaban baru dunia Islam yang akan datang. Kita akan mempertontonkan bagaimana konsep toleransi beragama dengan pertetanggaan rumah-rumah ibadah lain dalam satu kawasan yang sama,” tuturnya.
Rangkaian kegiatan Tarawih turut diisi dengan penanaman pohon di area depan masjid sebagai jejak hijau Ramadan, buka puasa bersama, penyerahan bantuan mushaf Al-Qur’an oleh Dharma Wanita Persatuan (DWP) Otorita IKN dan Kementerian Agama, serta pembagian dua ton kurma kepada para pemangku kepentingan di kawasan Nusantara. Agenda ditutup dengan kunjungan ke Istana Negara.
Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono, menyampaikan apresiasi atas dukungan Kementerian Agama dalam memperkuat kehidupan spiritual di IKN.
“Terima kasih Pak Menteri Agama beserta jajarannya telah memperhatikan pembangunan Ibu Kota Nusantara ini. Tadi pagi ada kultum tentang rezeki lahir dan batin. Ternyata langsung dijawab oleh Allah SWT, Menteri Agama membawa dua ton kurma sebagai rezeki lahir, sekaligus Al-Qur’an sebagai rezeki batin,” ujarnya.

Momentum Ramadan yang diawali dengan kehadiran Menteri Agama di IKN menjadi penegas bahwa pembangunan Nusantara tidak hanya berorientasi pada infrastruktur fisik, tetapi juga pada penguatan nilai-nilai spiritual.
Ramadan pun menjadi ruang refleksi untuk bertumbuh dan benar-benar “naik kelas” dalam keikhlasan. (*/Humas Otorita IKN)








