BorneoFlash.com, JAKARTA – Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri, menegaskan kesepakatan energi Indonesia–Amerika Serikat senilai 15 miliar dolar AS (sekitar Rp253,3 triliun) akan berjalan transparan dan patuh regulasi.
Ia menyatakan Pertamina melaksanakan impor energi melalui tender dan bidding terbuka, bukan penunjukan langsung. “Kami memastikan seluruh proses berlangsung transparan,” ujarnya dari Washington D.C..
Sebelumnya, pada Kamis (19/2), pemerintah Indonesia dan AS menandatangani poin perjanjian tarif resiprokal yang mencakup pembelian energi. Nilainya meliputi LPG 3,5 miliar dolar AS, minyak mentah 4,5 miliar dolar AS, dan bensin hasil kilang 7 miliar dolar AS.
Menurut Simon, kerja sama ini memperkuat ketahanan energi sekaligus mendorong diversifikasi pasokan agar Indonesia memperoleh harga kompetitif. Selain Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Afrika, Pertamina memandang AS sebagai mitra strategis.
Saat ini, Pertamina menunggu finalisasi dalam 90 hari. Simon memastikan perusahaan mengikuti seluruh prosedur kepatuhan dengan dukungan pemerintah. Ia berharap proses berjalan lancar dan memberi manfaat optimal bagi masyarakat. (*)






